Pandangan Pertama

Pernahkah kamu memandang ke arah seseorang dan merasakan getaran-getaran? Coba cek hapemu, mungkin ada panggilan masuk atau pesan singkat, atau mungkin kamu perlu ke ahli saraf karena ada kemungkinan gejala stroke. Itulah salah satu contoh kritis akan hati sendiri, mencoba skeptis akan perasaan-perasaan yang dialami sehingga mencoba menghindari makna dari getaran-getaran yang dirasakan. Terlepas dari kebenaran yang membahas mengenai rasa itu, rasanya perlu kita beri perhatian kepada cinta pada pandangan pertama, sebuah keadaan yang (katanya) memungkinkan seseorang untuk tertarik sejak di awal jumpa, layaknya sebuah karya William Shakespear yang mendunia, di mana sepasang anak manusia tertarik setelah bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah pesta dansa, dan tarikannya kian terasa setelahnya bahkan terbawa ketika berkendara atau mengetik dalam ruang sunyi sambil mendengarkan lagu mendayu tentang hujan yang tak berakhir.
            Berbicara mengenai getaran-getaran yang dirasakan, untuk lebih lanjut rasanya saya harus membahas hal yang mendasar , tidak terlalu mendalam mengenai mengapa hal itu harus terjadi, namun mungkin tentang bagaimana hal tersebut bisa terjadi adalah hal yang paling mendasar yang bisa dibahas dari sudut kapabilitas saya sebagai seorang pujangga buruk citra. Dari sudut pengalaman pribadi sepertinya yang paling bisa menyebabkan getaran-getaran mistis itu adalah sinyal-sinyal energi psikis yang dirasakan memiliki kutub yang saling tarik menarik, lebih tepat jika saya contohkan magnet yang berbeda kutub, klop kan?
Perbedaan keadaan psikis per individu mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi habit atau kebiasaan, dan kebiasaan mempengaruhi fisik. Maka menurut analisis ahli ngasal seperti saya, kebiasaan yang mempengaruhi fisik menjadi penentu yang cukup signifikan dalam memunculkan getaran-getaran dalam tiap-tiap pertemuan dengan individu lain. Jadi dalam hal ini tubuh memiliki sensornya sendiri terhadap objek-objek yang ditemui untuk kemudian dikodekan bentuk kecocokan melalui getaran-getaran yang dirasakan, bukankah perilaku antar individu harus sesuai agar hubungan yang berjalan dapat terharmonisasi dengan baik? Karena sering kali kita biasa saja meskipun bertemu beberapa keindahan dengan padu padan yang serasi selaras dan seimbang namun entah mengapa kurang begitu pas di hati.
            Berangkat dari kecocokan yang analisisnya terkesan dipaksakan pada paragraf sebelumnya, maka di sini dapat diasumsikan bahwa getaran-getaran tersebut dapat timbul karena sensor psikis tubuh merasakan kecocokan atau sinyal yang dapat sesuai dan berada pada jalurnya. Namun masalah selanjutnya muncul, setelah kita merasakan sinyal tersebut lalu apa? Sebuah pertanyaan sederhana, memiliki jawaban sederhana dan mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dilaksanakan. Hanya dua pilihan untuk meneruskan perjuangan yang penuh darah, keringat dan air mata atau kembali ke pangkalan sambil memendam rasa yang terhambat yang semoga hilang terbawa seiring angin berhembus, hujan berderai, dan terbenam longsoran tanah atau hancur dilebur letusan gunung.
            Dilihat dari dua pilihan yang tersedia yang baru saja saya ketik dengan mudahnya tanpa harus benar-benar merasakan deru debu di dalamnya, maka selanjutnya kita harus melihat konsekuensi lanjutan dari pilihan-pilihan tersebut.  Jika maju yang dipilih maka setelah segala usaha dan getaran hebat yang dirasakan untuk mengungkapkan kesimpulan dari sinyal tersebut yang biasa disebut cinta adalah kesiapan kita untuk menerima keputusan dari si pujaan hati. Untuk saya yang telah merasakan konsekuensinya, jika itu adalah tidak maka bersiaplah untuk kembali ke titik awal dimana kita harus menghanyutkannya bersama derai hujan atau meleburnya di kawah merapi di mana hanya malam yang terasa lebih kudus dari biasanya yang mengerti serta bintang yang tak pernah berkata yang seolah mengejek kita penuh iba. Namun sebaliknya, jika jawaban sang seroja adalah iya untuk mengkoneksikan hubungan kedalam pengesahan yang semakin diakui maka selanjutnya kita harus bersiap untuk segala konsekuensi seperti waktu, perhatian, perasaan dan perhitungan yang lebih memasukkan faktor sang sedap malam dalam hampir setiap keputusan dan tindakan, yang di mana jika tidak dapat terdelegasikan dengan baik dapat berakibat sepinya nada dering di hape dan getaran-getaran pun dirasa semakin mengganggu dan mungkin setelahnya kita mungkin harus membawa ke reparasi elektronik untuk mengecek apakah dinamo getar sang hape rusak?.
            Maka terkadang bukan saya pengecut atau skeptis terhadap perkembangan yang terjadi dalam kasus cinta pada pandangan pertama, namun lebih kepada hati yang mungkin tidak terlalu berani untuk menerima konsekuensi dari meneruskan dan kemudian memastikan apakah sinyal-sinyal yang dirasakan berupa bayangan akan wajahnya yang tiada henti terbawa bersama tinta sang rembulan adalah benar merupakan sebuah cinta yang terbalaskan atau lebih kepada kesalahan tubuh merespon? Karena menurut Ryu Hasan setiap respon dan pilihan atas tindakan dari respon tersebut telah ditetapkan dalam hormon-hormon kita sehingga dapat disimpulkan bahwa tiada kehendak bebas dalam keseharian manusia, semua sudah diatur melalui hormon-hormon.
            Dengan sedikit gemas saya menyalahkan hormon saya sendiri yang salah menganalisa sinyal-sinyal kecocokan dalam cinta yang dirasakan, namun lebih lanjut dalam pemikiran yang kritis kita dapat mengatakan bahwa bisa saja secara alami tubuh dan jiwa kita merasa cocok namun hal yang sama tidak terjadi pada sang rembulan padam sehingga cintapun bertepuk sebelah tangan, betapa perih udara yang menghempas di telapak yang tak tertahan. Jika demikian, apakah layak sebuah perasaan diperjuangkan berlandaskan ketertarikan pada pandangan pertama? Ahh… sekali lagi. Sambil membayangkan wajahnya, mari menatap rembulan yang terjerat ranting pohon pete.


Tangerang 18 Apr 2015

Netbook Usang Pengingat Siang

Ada sarang laba-laba di netbook ku, warnanya putih mungkin itu sisa dari sarang laba-laba kecil yang menyempil di antara lepitan monitor dan keyboard. Aku sendiri sudah agak tidak begitu heran kenapa ada sarang laba-laba di netbookku, karena aku tahu sudah lama netbook ini tak digunakan, aku terlupa selama lulus dari sarjana strata 1 sejak 2 tahun lalu bahwa aku masih punya netbook pemberian ibuku semasa aku magang di Kemendiknas menjadi asisten peneliti yang membantu pengolahan data PNS di Kemendiknas. Baru saja 3 tahun berlalu aku lupa penelitian apa yang waktu itu kubantu untuk mengerjakan pengolahan datanya. Oia aku ingat, saat itu aku mengerjakan pengolahan data tentang proposal penelitian guru dan dosen tingkat nasional. Guru dan dosen dari segala penjuru negeri mengirimkan ribuan karyanya yang tertampung dalam beberapa file yang masih berantakan.

Namun, rasanya tulisan ini bukan tentang tugas-tugasku semasa magang. Kembali ke topik awal, sebenarnya aku ingin membahas mengenai sarang laba-laba yang ada di netbook yang ku gunakan untuk menulis artikel ini. Mengapa benda itu bisa ada di situ? Padahal kan tempatnya sempit, kecil pula. Tapi menurutku bisa saja, karena laba-laba tersebut memiliki banyak waktu luang untuk berdiam lama dan mencari cara untuk membuat sarang di tempat sekecil itu, bukankah memang itu tugas mereka. Dan mungkin jenis laba-laba yang membuat sarang di netbook ini kecil dan muat bersempil-sempil di dalam celah, dan memang mereka mungkin menyukai celah-celah sempit.

Beberapa analisa mungkin dapat aku jabarkan sebagai jawaban yang memungkinkan dari pembuatan sarang laba-laba tersebut. Namun yang pasti netbook ini memang sangat lama tidak ku pergunakan, sebagai mahasiswa jomblo-yang mungkin terlalu lama-paling dulu aku hanya menggunakannya untuk chatting mengisi waktu luang, browsing atau nonton video porno yang dengan niat tulus dan persahabatan sejati aku dapatkan dengan gratis.  Namun kini setelah lulus aku bahkan tak begitu tau untuk apa netbook ini aku gunakan.  Lama netbook ini tak aku buka karena aku merasa tak tahu untuk apa aku membukanya. Rasanya bosan melakukan hal-hal yang dulu aku lakukan bersama netbook ini, maka aku menutuskan untuk tidak membukanya lagi sampai aku ingin. Setelah dua tahun berlalu semenjak kelulusan program strata satu, beberapa suara di dalam otak mulai mendesak hati untuk mengeluarkan kata-kata yang tersumbat, rasanya cukup banyak.  Begitu kubuka, ehhh... ternyata sudah ada sarang laba-laba.

Andai kata aku sering menggunakannya untuk menulis apapun yang tersumbat di otakku mungkin ia tak akan disarangi oleh laba-laba. Marilah sejenak berhenti menyalahkan laba-laba , Sebagai pengingat sang laba-laba ini cukup jitu mengenai hatiku, seakan-akan bertemu pacar lama yang tak pernah ku perhatikan keadaannya. Baterenya-pun bahkan habis karena terlalu lama disimpan, atau mungkin sudah bocor… bocor… . hingga usanglah ide-ide yang harusnya ditumpahkan lewat tulisan-tulisan. Monitor yang dulu layarnya berwarna-warni kini hanya berwarna putih jaring laba-laba yang menempel, mungkin ini peringatan bagiku bahwa inilah saatnya kembali mempergunakan netbook ini sebagai media penghantar antara pikiranku ke beberapa orang yang mungkin memiliki secuil kesudian untuk membacanya. Karena saharusnya saya bersyukur dengan apa yang ada, bukan fokus pada beberapa ketidak beruntunganku yang unik selama dua tahun ini.

Bayangkan para penulis semasa belum ada teknologi canggih seperti komputer, mereka lebih boros kertas, harga mesin tik mahal, lampu penerangan kurang, perut lapar, yang bahkan di salah satu biografi penulis Pramoedya Ananta Toer sang sahabat menuliskan bahwa Pram sering tidak makan berhari-hari saat sedang mengetik karya-karyanya, bukan karena diet atau puasa melainkan karena kesulitan ekonomi yang dihadapinya saat itu karena tak satupun media mau menerbitkan karyanya yang mulai dicekal pemerintah. Yaa seperti biasa lah, masyarakat dan pemerintah saat itu alergi terhadap akal sehat namun menggilai kemistikan, sedangkan masyarakat sekarang? Maka sejak aku melihat sarang laba-laba yang mengihiasi netbook ini, aku berjanji di sudut hati yang paling sudut untuk tidak akan membiarkannya–paling tidak-bersarang laba-laba lagi. Bukan dengan mengelapnya setiap hari, namun dengan sering-sering mempergunakannya untuk menumpahkan apa yang ada di pikiran sebagai tindakan kritis dari kehidupan sehari-hari untuk–mudah-mudahan-kebaikan.

Karena sangat disayangkan jika hal-hal tidak disampaikan sebagai pelengkap sudut pandang terhadap fenomena-fenomena yang terjadi. Setiap orang punya pemikiran, argumen, dan sudut pandang terhadap tiap-tiap hal yang terjadi. Oleh karena itu setiap tulisan itu unik. Maka saya memutuskan untuk tidak terlalu banyak aktif di media sosial, agar otak saya tersumbat kemudian meledak dan dari ledakan itu dapat terciprat percikan-percikan ide untuk sayang tuangkan dalam sebuah tulisan. Agak geram saya melihat diri saya sendiri yang kalah dengan beberapa pembenci yang memproklamirkan sudut pandangnya terhadap fenomena dan menuntut untuk dijadikan kebenaran tunggal layaknya Tuhan. Bukankah hal ini harus dilawan? Lawan tulisan dengan tulisan, proklamirkan perbedaan sudut pandang kita masing-masing! Karena suatu hari ketika satu ide telah diberhalakan, sepatu lars dan benda-benda tajam akan menghancurkan koneksi-koneksi syaraf di balik tempurung otak kita.

Sampai di sini dulu saja, karena saya mulai tidak begitu fokus sepertinya. Bukankah di awal saya hanya ingin membahas sarang laba-laba yang menempel di netbook?

Tangerang, 19 September

SB

Subjektivitas Cinta


Bukan dalam kesunyian ataupun kesindirian aku memikirkannya. Apa ini sebenarnya? Apa yang kamu, aku dan mereka bicarakan tentang cinta? Seekor kupu-kupu yang akan pergi jauh jika kamu kejar? Sebuah layangan dengan kendali, yang pergi dan datang bergantung pada anginnya? Sebuah rasa, harapan, bualan, dengan sedikit dusta didalamnya? Ah. Apa yang kita pikirkan? Filosofi cinta merupakan ketertarikan, rasa belas dan kasih sayang, katanya. Yang seperti apa? Jadi apa pikiran-mu tentang cinta? Apakah cinta ada untuk dipikirkan? Apakah cinta adalah suatu pikiran? Apakah pikiran-pikiran itu disebut cinta? Apakah kamu mencintai pikiran-pikiran cintamu itu? Apakah cinta-mu itu memikirkan kamu?

Aku-pun pernah merasakan hal yang katanya layak dikatakan sebagai cinta. Menikmati hal yang orang lain sebut itu cinta. Membangun suasana yang berdiri dengan bualan kata cinta. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Padahal tahu bagaimana akhirnya. Akhirnya cinta bukan lagi cinta. Apa yang telah aku lakukan? Apa juga yang telah aku lewatkan? Tidak, bukan aku. Tapi kita.

Mereka bilang cinta bukan untuk dipikirkan, tapi hanya untuk dirasakan. Lalu perasaan apa yang kamu pikirkan? Lalu pikiran apa yang kamu rasakan? Bukankah cinta-mu itu berasal dari pikiran? Pikiranmu itu juga bisa berasal dari cinta. Lalu apa?

Cinta dan logika bukan suatu hal yang bisa dipersatukan katanya. Tapi menurutnya cinta butuh saling memahami? Memahami-pun butuh logika. Jadi apa sebenarnya? Katanya cinta tak tahu kapan datangnya, bahkan pemiliknya sekalipun. Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan segala ketidaktahuan kita tentang cinta? Menikmatinya? Menikmati apa? Kita pun tidak tahu apa yang sebenarnya  sedang kita nikmati itu. Jadi dengan apa cinta bisa dibaca? Dengan bahasa cinta? Dengan apa cinta bisa dirasakan? Dengan perasaan cinta? Jadi apa?

Erupsi



Hujan itu seringkali menghambat peradaban. Hujan menjebak kita untuk menemui sebuah nilai yang tak terduga. Di warung bakmi ayam, saya menjemput nilai itu. Pemiliknya lulusan sarjana ekonomi yang percaya bahwa wirausaha ialah buah dari segala proses njelimet teori untung rugi, aktiva pasiva, yang ia pelajari di universitas. Salah satu pembelinya mahasiswa psikologi semester 7, ia mengejar kuliah hanya 3 setengah tahun. Bakmi ayam ia beli untuk menemaninya mengerjakan skripsi.
Satu orang lagi yang akan menjadi awal dari sebuah nilai yang saya maksud di atas. Namanya Emha.
” Kediri dan Medan itu orangnya keras-keras. Sikap keras, ambisius-asal tujuannya tercapai tanpa merhatiin orang sekitar, jadinya kebuanyakan dosa.. ” kebiasannya yang ceplas-ceplos menimbulkan efek sengatan bagi orang yang mendengar.
Semua yang mendengar sepakat, bahan yang dibicarakan mengenai meletusnya gunung kelud di kediri dan gunung sinabung di sumatera utara.
” banyak banget tuh kerugiannya.. ” sarjana ekonomi khas sekali kalau melihat suatu masalah.
” banyak-banyak taubat.. Minta ampun dan pertolongan kepada yang maha berkehendak..” Emha bernasehat.
Tensi perbincangan sedikit naik. Penjual bakmi duduk mendekat ke arah Emha. ” untung kau tidak ada di sinabung sana, kalau kau katakan kepada mereka soal taubat-taubatan.. habis kau digebuki.. ” ia menekan dalam konteks seloroh.
” mereka tak butuh nasehat.. ” tegas penjual bakmi.
” lantas, mereka butuh pengaturan ekonomi? Mie instan? Itu semu. Karena yang sejatinya mereka butuhkan ialah kebeningan jiwa dan kekuatan ruhani. Itu dasar untuk menjalani kehidupan yang panjang.” Emha tak mau kalah.
Suasahan hening. Entah saling mengkritisi diri atau mencari antitesa dari sebuah premis yang terakhir muncul.
” bagaimana dengan gunungnya? ” pertanyaan itu keluar dari mahasiswa psikologi.
Wajah-wajah yang mendengar percakapan di warung bakmi itu sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran mahasiswa psikologi. Tema percakapan sudah menarik oleh kubu materialis dan ruhani, horizontal dan vertikal.

” maksudnya? ” penjual bakmi memberi hormat.
” bagaimana dengan gunungnya yang memang tugasnya ber-erupsi? Atau dengan bahasa agama, gunung hanya menjalankan titah Tuhan.. ”
Ucapannya mulai patut diperhatikan.
” tujuh semester saya belajar psikologi, puncak tertinggi dari pengetahuan yang saya dapat ialah jika kita ingin bijak dalam memahamai sesuatu, kita harus terlebih dahulu menempatkan diri pada sesuatau yang kita ingin pahami. Kita tidak bisa memahami orang lain dengan otak subjektif dan standard pribadi kita sendiri.
Saya resah dengan label bencana pada letusan gunung. Sebelum ada manusia, gunung memang telah meletus sebagai proses tumbuhnya menjadi ”dewasa”. Gunung butuh mengekspresikan diri seperti manusia. Gunung butuh refresh seperti komputer. Dan jika diperas lagi soal kebutuhan gunung, itu tak lebih dari program kerja yang dikonstruksi dengan sangat epik oleh Tuhan, sang Raja manusia.
Bayangkan jika gunung punya perasaan? Ia telah senior sebagai ciptaan Tuhan, ia telah berjiwa besar merelakan manusia menjadi khalifah di bumi. Hanya ingin menyuburkan wilayah sekitarnya dengan abu vulkanik, erupsi gunung dilabelkan bencana.
Gunung hanya menjalankan tugasnya. Ia tak punya pilihan untuk bergerak mendiami penjuru bumi, agar erupsinya tak mengganggu manusia. Ia ingin itu, tapi yang ditakdirkan leluasa bergerak justru manusia. Gunung tak pernah cemburu oleh manusia. Sungguh hatinya tak pernah cidera. Bagi gunung, menuruti Tuhan hal yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Lantas, kenapa kita manusia yang bisa ke luar angkasa, menganggap gunung sebagai bencana. Kalo saya yang jadi gunung bakalan ngedumel : Asuu tenan wong saiki.. seenaknya sama alam. Buang sampah sembarang ke gunung. Ngambil air dari gunung, pohon-pohon ditebang. Asuu..  ”
Penjual bakmi terperangah. Otak ekonominya tak menjangkau pemikiran macam itu. Emha, hatinya kaku untuk memahami kedinamisan sebuah kebenaran, yang baginya mutlak dan tak bisa diganggu gugat.
Mahasiswa psikologi itu menjelaskan lagi : soal mana yang dibutuhkan antara nasehat dan kekuatan ekonomi? Saya sependapat jika perlu ada arahan mengenai sikap kita terhadap alam. Tapi bagaimana jika orang yang sedang kita arahkan, mengerang kesakitan karena lambungnya tak biasa menerima makanan kota. Apa kita harus bilang, Tuhan beserta orang-orang yang sabar? Karena yang saya tahu, nabi Isa menghidangkan makanan bagi pengikutnya ketika pengikutnya berteriak lapar. Bukan menyuruh pengikutnya untuk bersabar.
Saya juga sepandapat jika kekuatan ekonomi penting. Tapi bagaimana jika orang yang akan kita beri bantuan ekonomi, sedang menangis kejar karena anaknya yang berusia 2 tahun wafat karena keseringan menghirup abu vulkanik. Apa bisa kita mengganti anaknya dengan mobil mewah atau rumah baru? ”
Memanas tubuh Emha dan penjual bakmi. Saya yang hanya jadi pendengar, sedang memposisikan diri menjadi gunung.
” apa kaum nabi nuh, warga kelud dan sinabung belangsak? Yang jelas, nabi Nuh membuat kapal super besar untuk menyambut sebuah banjir besar yang telah ia prediksi.. ”

Mahasiswa ini sedang ber-erupsi sepertinya..

Panggil Saja Aku Jamie

Aku bukan tipe orang yang mudah putus asa. Tetapi ini semua membuat aku frustasi.Ya, namaku Jamie bila kau ingin memanggilku panggil saja aku dengan sebutan itu. Nama yang telah diberikan oleh ayah baptis ku.  Orang-orang di dunia ini hampir semuanya munafik, aku bisa melihatnya dari cara mereka memandangku, memandang diri mereka sendiri dan cara mereka memandang dunia. Menurutku hanya 5% dari jumlah populasi manusia di bumi ini yang tidak munafik, yang straight, benar-benar light dan benar ketulusannya.
Rasanya aku ingin berlari dan terus berlari hingga menemukan sesuatu yang kucari. Entah apa dan bagaimana aku bisa menemukannya aku juga tidak tahu. Yang jelas pada suatu saat yang entah kapan, aku ingin bertemu salah satu diantara mereka yang hanya 5 % itu.
Hingga suatu saat aku bertemu dengan gadis itu, nama nya Shoffi. Aku terkejut ketika pertama kali melihatnya sebuah tatapan yang sejuk dan sepintas senyuman yang nampak bagai bidadari yang ada di langit. “Mungkinkah ia bosan dengan kemewahan langit dan turun ke bumi?”, gumamku setengah melamun.
Tampak nya aku tengah berada dalam preconscious membuatku terhuyung dan sejenak merasakan injeksi dari hormon dopamine . Sebuah idealisme ku yang terwujudkan, ia tak hanya cantik di luar tapi juga secara kepribadian ia merupakan orang yang mudah untuk dikagumi. Mempunyai karier yang cemerlang, gagasan-gagasan nya yang briliant tentang perancangan masa depan, serta tutur kata nya yang selalu lemah lembut. Tapi tidak hanya itu, ia juga merupakan sesosok perempuan yang tegas dan tegar. Kami sering mengobrol tentang banyak hal, baik itu hal-hal yang menjadi isu hangat ataupun hal-hal yang bersifat pribadi. Seperti pada saat ia menceritakan lembaran-lembaran masa lalu nya. Ayahnya merupakan seseorang yang pemabuk yang sering memukuli ibunya sewaktu ia masih kecil.
Dia begitu tegar melalui semua masa lalu nya, dia juga menceritakan kisah-kisah nya dengan tegar. Tapi masih tetap tampak guratan-guratan kesedihan yang tampak dari wajah sayu nya.
Aku sadar bahwa aku tak setegar dia dalam menghadapi hidup. Dia merupakan motivator teranyar dalam diriku, dia merupakan mood stabilizer, dia merupakan penyangga yang sanggup menopang rongga-rongga di hidupku yang rapuh. Hingga pada suatu hari, setelah berbincang di kedai kopi itu aku memungut sebuah diary yang berukuran kantong yang terjatuh.
Aku penasaran, lalu kubuka dan mulai kubaca. Aku menangis, entah kenapa air mata ku tak kunjung reda. Kuhirup napas panjang tapi malah membuat tangisku lebih-lebih. Tangis haru biru ini kutahan sampai malam datang dan aku tetap tak bisa tidur. Kugerogoti jari telunjuk ku yang ternyata mulai mengalirkan darah. Dua hari berlalu, emosi ku sudah dapat kuatur, tapi kebiasaan baruku menggigit jari telunjuk tak kunjung hilang. Membuat luka kecil itu seolah melebar dan tak dapat sembuh. Aku pikir aku akan bertemu dengannya hari ini. Kalau tidak, rasanya aku pasti akan menderita seumur hidupku. Aku menengok ponselku yang tiba-tiba berdering.
“Halo, Shoffi?”
“Jamie, kita harus bicara”.
“Ya, kau benar Shoffi. Kita harus bertemu. Ada hal penting yang harus kukatakan padamu”.
“Iya, Jamie. Baiklah di kedai kopi biasa”.
Dia datang dan kami pun saling berpandangan selama sekian menit.
“Jamie, biarkan aku yang terlebih dahulu”.
“Ok. Baiklah”.
“Aku sangat menyukaimu Jamie. Dan entah sejak kapan aku mulai menyayangimu lebih dalam”.
“Aku juga Shoffi. Dari sangat awal bahkan aku sangat tertarik padamu dan sekarang aku bingung harus menamakan perasaan ini apa”.
“Jamie, aku ingin suatu saat nanti kita bisa..”.
“Maaf, Shoffi aku tidak bisa. Kita tidak akan pernah bisa menikah”.
“Kenapa Jamie? Apa yang salah?”
“Tidak ada yang salah, hanya saja aku telah tak sengaja membaca buku diary mu kemarin”.
“Lalu?”
“Maaf Shoffi. Aku rasa kita memang tidak ditakdirkan bersama”.
3 minggu setelah itu, Jamie tak pernah menampakkan diri di depan Shoffi. Hanya saja ada sepucuk surat yang tiba-tiba datang. Setelah membaca surat tersebut, Shoffi sadar bahwa ini semua salahnya. Seandainya saja hari itu ia tidak menjatuhkan buku diary nya. Seandainya saja waktu itu ia tidak memaksakan kehendak untuk mengikatkan janji suci bersama Jamie. Tangisan yang menderu jatuh membanjiri tepat di bawah pelupuk mata Shoffi. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain terus-terusan menghujamkan diri dengan rasa sesal, rasa marah, rasa putus asa. Hari itu ia hanya mengulang-ulang membaca surat yang dituliskan Jamie untuknya.
Halo  Shoffi, maaf bila kata-kataku terlalu manis untukmu, maaf bila aku bisa membungkusnya semua hal ini dengan terlalu rapih, maafkan segala kebohonganku selama ini
Aku takut aku tak bisa mengutarakannya secara langsung dan hanya bisa membuat banjir air matamu,
Sejak awal aku tahu, bahwa sesungguhnya perasaan ku ini adalah perasaan suka dan bahagia yang luar biasa,
Karena aku bisa diizinkan Tuhan untuk bertemu dengan makhluk indah ciptaan-Nya
Bahagia sekali aku bisa melihat suatu bentuk dari idealisme yang ku impikan terwujud dalam dirimu
Tapi aku harus jujur, aku bukanlah laki-laki yang kamu mau, yang ada dalam diary mu,
Aku adalah perempuan yang terbiasa sejak kecil bertingkah laku seperti laki-laki,
Dan aku juga sadar bahwa virus ini menggerogoti ku perlahan.
Aku tidak akan pernah sanggup untuk membangun ikatan suci denganmu melalui kepalsuan yang menjijikan,
Aku sadar aku bukanlah makhluk yang pantas dibanggakan, aku sadar aku jauh dari kata sempurna,
Tapi aku juga manusia yang masih memiliki perasaan, bila saja aku memang laki-laki yang diciptakan untuk mendampingimu, bila saja kita memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Maafkan aku Shoffi”.
-Dari Jamie, yang selalu mencintaimu

Bulu Mata dan Perbandingan



Jika ditanya apa yang pertama kali menarik perhatian laki-laki ketika melihat perempuan, sebagian teman saya langsung menjawab : payudara, saudara saya yang laki-laki lebih memilih menjawab : bokong. Dua jawaban itu memiliki perspektif sama, yaitu payudara atau bokong yang besar, itu yang lebih menarik laki-laki. Dan dua jawaban itu bukan tanpa alasan.
Teman saya menjabarkan argumennya kenapa menjawab payudara. Menurutnya laki-laki secara alamiah dalam proses menjadi seorang ayah, menganggap payudara perempuan sebagai symbol kesejahteraan bagi anak-anaknya kelak. Payudara sebagai penghasil ASI merupakan instrumen penting perkembangan seorang anak yang baru lahir, ASI yang berkualitas berpengaruh baik dalam tumbuh kembang anak yang baru lahir. Itu menjadi landasan berpikir sebagian teman saya mengenai payudara.
Kemudian penjelasan kakak saya mengenai bokong. Ia menjawab bokong, karena bokong yang besar lebih kuat menjaga sel sperma laki-laki dalam proses pembuahan. Laki-laki rata-rata mengeluarkan 3cc air mani dan setiap 1cc air maninya mengandung 100 juta sel sperma. Oleh karena itu butuh tempat yang sangat baik untuk menjaga sel sperma tersebut. Dan kakak saya menilai bokong yang besar secara simbol bisa dijadikan tempat yang baik tersebut.
Penjelasan teman dan kakak saya menarik bagi saya untuk memperdalam penjelasannya. Apakah benar payudara yang besar berpengaruh pada kuantitas dan kualitas ASI? Apakah bokong tempat bernaungnya sperma?
Pertama soal payudara, secara logika memang tepat, payudara yang kecil menandakan kelenjar susu yang kecil. Namun ternyata, dari berbagai artikel dan jurnal yang saya baca, kesimpulannya ialah gizi (apa yang perempuan makan) dan kondisi psikis yang paling berefek dalam produksi ASI.
Kemudian soal bokong. Jawaban kakak saya itu sangat rekayasa. Bokong bukan tempat menjaga sel sperma, melainkan sel telur yang kemudian bergerak menuju rahim, yang menurut kitab suci, rahim perempuan ialah tempat penetapan yang kokoh.

Lantas saya mengambil kesimpulan bahwa sebagian teman dan kakak saya sebenarnya hanya berlandaskan pada hasrat seksual. Tidak kurang tidak lebih.
Kalau saya sebagai laki-laki ditanya apa yang menarik dari seorang perempuan. Saya akan jawab : mata.
Mengapa demikian? Bagi saya mata ialah miniatur seorang perempuan dalam menerjemahkan hidupnya, mempersepsikan lingkungan sekitarnya dan memperlakukan seorang manusia. Dari tatapan matanyalah, kita sebagai laki-laki, bisa paham bagaimana kedudukan kita dimatanya. Bagaimana ia akan memperlakukan sebagai seorang manusia, matanyalah yang akan memainkan peran lebih dulu.
Filsuf kenamaan Prancis bernama Jean Paul Sartre, memberikan perhatian khusus kepada tatapan mata seseorang. Menurut Sartre, mata dengan tatapannya mengandung symbol dan makna tersendiri. Dari sekian symbol yang disebutkan saya tertarik mengutip symbol penjajahan. Symbol penjajahan di sini adalah penjajahan atas individu. Hal tersebut Sartre jelaskan dengan contoh seorang perempuan yang sedang sendirian di taman, kemudian dihampiri laki-laki yang menyapa dengan lembut. Awalnya perempuan tersebut memanjakan hatinya dengan apa yang ia lihat seperti air mancur, bunga-bunga dan anak kupu-kupu. Namun seketika berubah, dengan datangnya seorang laki-laki. Perempuan itu tersipu malu dengan sapaan laki-laki yang lembut. Pada momen itu Sartre berkata : sapaan laki-laki itu telah merenggut dunia seorang perempuan.
Secara filosofis Sartre merasa dunia seolah memiliki “lubang kecil” yang menyedot segala hal ke dalamnya, dan lubang kecil tersebut ialah tatapan mata.
Saya merasa memiliki selera yang sama dengan Sartre, terutama soal perspektif mata dari sudut pandang filosofis. Jika dari sudut pandang fisik saya belum ketahui. Yang jelas, salah satu hal yang saya sukai dari mata ialah keberadaan bulu mata. Bulu mata yang lentik dan bulu mata yang lebat. Dalam imajinasi saya, bidadari-bidadari di surga pasti memiliki bulu mata yang lentik dan lebat.
Kini, pandangan soal mata terciderai akibat maraknya perempuan menggunakan bulu mata palsu. Sudah hampir satu dasawarsa ini bulu mata palsu digunakan secara berjamaah. Ialah artis kenamaan Indonesia bernama Syahrini yang makin mencetarkan peggunaan bulu mata palsu. Ia buat trend bulu mata anti badai, bulu mata yang super lebat nan lentik. Otomatis ia menjadi cantik jelita dan memberi kesan pada khalayak umum bahwa bulu mata palsu itu penunjang yang apik untuk cantik.
Tak peduli dengan kalimat cerdasnya : beautiful is paint, saya sebagai penggemar berat terhadap mata yang satu paket dengan bulu mata merasa terciderai oleh rekayasa atau kepalsuan tersebut. Kealamiahan mata yang Sartre sebut sebagai lubang kecil, akan berkurang nilai sakralnya. Beberapa kaum perempuan membela diri dengan mengatakan “ memakai bulu mata palsu sebagai bagian dari mempercantik diri ialah hal yang wajar. Perempuan harus tampil cantik! “
Saya pribadi sepakat soal itu. Masalahnya tidak sampai pada titik itu saja. Bukan hanya soal Syahrini atau yang lain memakai bulu mata palsu. Bukan!
Persoalan ini sudah melesat jauh di ruang pikir saya pada tahap perbandingan. Ya, perbandingan! Bagaimana bulu mata palsu membuat ketertarikan saya pada salah seorang perempuan berkurang 20 persen. Sebabnya ialah bulu matanya kini tak lagi terlihat menarik karena saya sudah diberi standar bulu mata yang lebih lebat dan lentik meski palsu.
Saya terjebak dalam mekanisme perbandingan yang saya ciptakan sendiri melalui sensasi-sensasi yang dunia luar berikan.
Saya kira itu terjadi pada manusia di seluruh dunia. Hampir semua.
Guru sejarah saya pernah bercerita. “ yang membuat Soekarno berani memerdekakan Indonesia ialah karena ia berani meminang Fatmawati dan mengkhianati Inggit. Jika mengkhianati manusia yang paling ia cintai saja berani, kenapa harus takut untuk memerdekakan suatu Negara. Mengkhianati cinta sejati, itu lebih sulit daripada memerdekakan suatu Negara! Itu perbandingan.”
Murid teladan bertanya “ kok perbandingan?”
Guru sejarah itu bertanya kepada sang murid “apakah pernah merasa kehilangan?”
“ pernah. Sewaktu ibu meninggal.” “pernah diputusin pacar?”
“ pernah.” “ nangis?” “gak.”
Guru sejarah saya tersenyum. “ kamu tidak nangis karena pernah kehilangan ibu kamu. Kamu pernah mengalami rasa sakit yang teramat sewaktu kehilangan ibu kamu. Dan itu menjadi suatu kekebalan ketika kamu diputusin pacar. Itulah secara tidak langsung kamu memberlakukan konsep perbandingan di pikiran dan perasaan.”
Murid teladan tersebut diam. Mengiyakan perkataan sang guru dalam hati.
Benar. Harga pemain-pemain sepak bola eropa melambung drastis. Nilainya berkisar setengah triliun. Hal ini terjadi karena harga mega bintang Cristiano Ronaldo yang dibeli klub Real Madrid mencapai 1,3 triliun. Maka, klub Barcelona memberlakukan suatu perbandingan dengan menaikkan harga Leonel Messi, peraih empat kali pemain terbaik dunia, berkisar 2 triliun.
Dalam skala kecil, seperti menawar bajaj kita sering menggunakan bahasa tawar seperti ke tempat ini aja lebih murah bang. Artinya perbandingan itu memang sudah menjamur di otak manusia.
Saya pernah menggelontorkan tema perbandingan didiskusi dengan salah satu teman yang saya nilai kompeten. “ perbandingan itu ialah keajegan Tuhan yang biasa kita namai takdir. “ begitu katanya tempo itu, menyetrum daya intelektual. “ itulah sebab manusia harus belajar setiap hari dan berkembang setiap waktu. Karena di antara itu ada perbandingan pada sebelum dan sesudah. Manusia melalui pikiran menjadi jembatan dalam sistem perbandingan, sehingga muncul penilaian baik dan buruk.”
Ketangguhan logika teman saya itu tak dapat saya tandingi. Saya hanya memunculkan pertanyaan : “ sampai kapan kita harus membanding-bandingkan satu dengan yang lain? Masa lalu dengan masa kini? Sampai kapan manusia harus mencari kata-kata seperti perak emas platinum diamond untuk menobatkan suatu objek yang luar biasa? “
Teman saya terdiam, menampung pertanyaan saya. Bukan karena bobot pertanyaannya, yang awalnya saya anggap berkualitas, tapi karena bertubi-tubi.
“ di situ magnet kehidupan di letakkan. Perbandinganlah yang membuat manusia bergerak untuk meraih keragaman pengalaman yang ujung pangkalnya dirumuskan dalam konsep perbandingan dan kenangan. Jika kita membandingkan kehidupan saat ini dengan imajinasi kita, di mana ada kehidupan yang lebih layak, tanpa sadar perbandingan dan imajinasi menuntun kita untuk bergerak. Dengan pergerakan itu kehidupan, yang kata Chairil Anwar hanya berjibaku melawan rasa bosan, berjalan dengan wajar.”
Entah kenapa saya kurang sepakat namun tak mungkin diutarakan mengingat ketangguhannya berargumen.
Saat sendirian saya baru ngeh kenapa saya kurang sependapat. Alasan klasik : idealisme. Ya, idealisme yang saya anut berupa kesetiaan. Kesetiaan ialah puncak tertinggi dari dari sebuah sikap. Jadi, jika ada perpindahan atau bahasa teman saya tadi, pergerakan, saya khawatir mengikis rasa setia. Kesimpulan sederhana saya, manusia yang bergerak dan berpindah-pindah ialah manusia yang tidak setia. Mencari pengalaman-pengalaman baru yang kemudian dirumuskan dalam buku perbandingan itu termasuk bentuk anti kesetiaan.
Hebatnya, beberapa jam kemudian saya mendapati antitesa dari pernyataan di atas. Bukankah kesetiaan itu justru tinggi nilainya karena banyaknya pergerakan dan perubahan dalam hidup. Kesetiaan menjadi hal dramatis ketika ia mampu bertahan dikerubuti tarik menarik kepentingan.
Balik lagi ke persoalan bulu mata.
Seorang perempuan yang saya sayangi namun sudah berkurang 20 persen, beberapa kali saya lihat memakai bulu mata palsu. Saya tertawa kecil, karena tiba-tiba rasa sayang saya berkurang 50 persen.

Perbandingan itu menipu. Sekarang saya belajar “setia”.

Adalah Suatu Keharusan Menguji Seorang Laki-laki



Adalah suatu keharusan menguji seorang laki-laki. Begitulah sekiranya isi kepala sebagian perempuan, tidak terkecuali bagi Pishell. Banyak yang bisa diuji, dari kesabaran, kesetiaan sampai soal kecemburuan. Yang terakhir disebut, ialah kemahiran Pishell. Di sela perbincangan berdua setelah menonton konser musik yang romantis, Pishell bertanya kepada mantan kekasihnya "Angelo, kamu bakal dateng gak ya ke nikahan aku ntar?"
Angelo yang masih bermanja dengan musik yang baru mereka berdua lihat, tergagap seketika. Bukan rangkaian kata sehingga menjadi sebuah jawaban yang sedang ia pikirkan. Tapi sejauh apa pertanyaan itu memiliki fungsi.
”Datenglah!” ia jawab sekenanya sambil mengatur mimik muka.
Sebetulnya pertanyaan itu secara sederhana bakal diprediksi jawabannya dengan mudah. Tapi sesungguhnya apa yang dipikirkan secara mendalam oleh Angelo mengandung runtutan dampak yang luas.
"Aku pernah diintimidasi teman-teman gara-gara aku dicap pemberi harapan palsu. Aku bilang ke mereka sebetulnya aku yang ditarik ulur sama perempuan. Perempuan ngajak aku makan, nonton atau sekedar iseng ke suatu tempat, aku usahain untuk bisa. Terserah orang lain bilang atau kamu sekalipun bilang aku murahan. Laki-laki panggilan. Aku cuma seneng bisa buat orang lain seneng. Walaupun gak aku pungkiri setiap kisahnya, terhadap siapapun itu, bakal meninggalkan kenangan yang entah kenapa membekas dan gak gampang dilupain.
Setelah mereka (perempuan) menemukan seseorang yang jauh lebih bisa memberi kesenangan, aku tinggal sendiri memunguti kenangan. Atau seringnya dan mungkin bagi  kamu berlebihan, sambil naik motor sendirian, aku suka baca puisi Soe hok Gie yang akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa. Itu puisi favorit dan entah kenapa pas untuk perjalanan hidup aku yang suka mengenang. Apakah kau akan membelaiku semesra dahulu, ketika ku dekap kau dekaplah lebih mesra... Itu kan kalimat mengenang. Memang riskan cara hidup aku"
Pishell tergelapar oleh kalimat demi kalimat yang Angelo utarakan. Cemburu yang ia harapkan hadir dari mantan kekasihnya, diam-diam terproduksi sendiri oleh hatinya yang lembut. Tiba-tiba air di matanya berantakan. Dua kedip saja mungkin luruh menjadi air mata tangis. Pishell menahan. Air matanya disublim menjadi kata-kata.
"Aku minta maaf."
Angelo tersenyum kecil.
"Harusnya pertanyaan kamu tadi udah terlintas, sewaktu nerima orang lain untuk ngegantiin aku. Aku tetap baik-baik aja. Meski di waktu tertentu, ketika aku mendadak melankolis, aku gak tau, cerita perjalanan kita pas tahun baru liat kembang api, ujan-ujanan dan ngelompatin pagar mau dikemanain. Dan aku suka mendramatisir sendiri dengan membayangkan kamu di sana lagi bermesraan dengan kekasih baru kamu, padahal di saat bersamaan aku mengenang kamu."
Hati Pishell gemetar hebat mendengar ketusan mantan kekasihnya.
"Aku gak pernah cinta sama siapapun setelah kamu. Aku pengen nemuin yang baru. Kamu terlalu nyaman untuk aku kembali pulang. Dan setiap ketemu kamu, aku selalu nemuin hal baru dari kamu. Aku tuh suka setiap kamu cerita tentang segala informasi, apapun itu, cara kamu bercerita dengan mimik muka kamu, satu perpaduan yang terkesan memaksa. Cara kamu memandang sesuatu juga jernih."
Angelo menutup mata. Ke-GR-an dengan sanjungan Pishell. Pishell menepuk dahi Angelo, "kurang ajar nih!" Angelo kesal.
"Aku gak percaya kalo kamu gak cinta sama mantan kamu itu.” protes Angelo.
"Iya.. tapi gak sampe cinta. Mungkin tertarik, atau ada rasa nyaman.. ” Pishell coba membantah.
"Aku lagi gak percaya jodoh di tangan Tuhan."

Beberapa tahun ini Angelo memang kritis terhadap hal berbau spiritual. Melalui berbagai pemikirannya ia sampai pada tahap bahwa kekuasaan terbesar Tuhan justru meletakkan free will pada garis kehidupan manusia. Mungkin juga itu perjanjian dengan malaikat dan setan soal penciptaan manusia tempo dulu yang fenomenal. Bahwa akan batal perjanjian mengenai manusia sebagai sebaik-baiknya bentuk sehingga tak ada pertikaian tumpah darah dan hal-hal lain yang telah diprediksi malaikat dan setan, jika Tuhan ikut turun tangan atas hidup manusia. Khususnya bagi setan, cukuplah Tuhan sebagai pengatur pola-pola hidup seperti habis makan kenyang, ingin banyak uang bekerja keras dan masih banyak lagi, tak sampai ke hasil. Kalau Tuhan sudah ikut campur tangan banyak, sudah pasti setan mundur untuk goda manusia, karena dekingan manusia Tuhan.
Ya begitulah deskripsi singkat kekritisan spiritual dalam diri Angelo.
"Kok?" tiga huruf itu merupakan bentuk representatif keanehan Pishell terhadap pemikiran Angelo.
"Jodoh ditangan manusia. Kriteria jodoh yang baik yang dianjurkan sesepuh kita dan pengharaman nikah beda agama merupakan ciri-cirinya. Balik ke soal kamu, dengan kamu gak punya teman laki-laki yang banyak, ruang lingkup mobilitas kamu gak banyak laki-laki juga. Bisa dengan tegas aku bilang, aku hampir jodoh kamu. Hahaha"
"Ahaha.. " mereka tertawa geli.
Kata jodoh yang menghubungkan mereka berdua menghasilkan apersepsi sehingga terdengar aneh dan menghasilkan tawa.
"Jodohku maunya ku dirimu..." suara Angelo diserempetkan ke dinding tenggorokan, khas Anang Hermansyah.
Pishell tersenyum lebar. Menikmati kebersamaannya dengan Angelo.
Tidak terasa mereka sudah jalan kaki hampir 2 kilometer. Gerhana bulan malam itu sengaja dijadikannya alasan oleh mereka untuk berjalan kaki. Mereka menuju tempat minum kopi biasa mereka dulu beli. Kayaknya secara alam bawah sadar mereka ingin bernostalgia dengan apa yang telah mereka lakukan dulu.
"Satuu.. duaa... tigaa ..." Angelo memberi aba-aba yang langsung direspon Pishell dengan ancang-ancang berlari. Pishell sudah tau apa maksud aba-aba tersebut.
Mereka berdua berlari. Menyusuri trotoar jalan besar. Melewati tiang-tiang lampu. Berteriak norak tak peduli pelototan mata orang sekeliling.
"Aa-a-ayoo lebih ke-een-ceng ... ” suara tersengal Angelo menyemangati.
Pishell mengejar dan merapat sejajar dengan Angelo. Angelo memegang tangan Pishell agar mereka lari bersamaan. Orang-orang yang melihat kejadian itu banyak yang mencibir dengan kata "sok romantis".
Soal fisik, mereka tergolong kuat. Kalau tidak, mana mungkin mereka berdua sampai ke puncak gunung tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci. Jadi mereka berlari sampai ke tempat kedai kopi langganan mereka.
Saat sampai dengan nafas tersengal Angelo berkata "wuah rusak nih jantung, abis lari minum kopi."
"Wuah iya..."
Akhirnya mereka tidak jadi meminum kopi. Mereka berdua memesan es jeruk lemon.
Sambil menunggu pesanan, Angelo minta ijin untuk bertanya sesuatu. Meminta ijin untuk bertanya merupakan petunjuk bahwa pertanyaan yang ingin diajukan berarti serius. Pishell mempersilahkan.
"Kamu suka aku dari mananya?" pertanyaan itu sudah kesekian kalinya
"Akhh. Gak mau." jawabannya pun sama seperti sebelumnya.
Untuk kali ini pertanyaan yang diajukan Angelo memang lebih serius dari sebelumnya. Dikarenakan keheranan Angelo terhadap beberapa teman perempuannya yang seperti ngasal memilih kepada siapa hatinya dilabuhkan. Angelo bakal membrondong orang lain dengan pertanyaan, jika ada yang bilang bahwa cinta itu buta. Baginya cinta itu mencerahkan. Atau bolehlah jalan tengahnya yang disepakati Angelo, cinta memang buta tapi gak goblok. Kata-kata terakhir itu dari Pishell.
"Salah satu alasan aku milih kamu dulu, karena kamu menaikkan kelas aku sebagai laki-laki." puji Angelo.
Alis kerang panjang milik Pishell melengkung tanda bingung .
"Aku bingung sama orang yang milih pasangannya tanpa ada pertimbangan apapun kecuali mempertimbangkan cinta. Selalu alasannya cinta. Kemudian jurus pamungkasnya kita gak bisa memilih untuk jatuh cinta sama siapa...” Angelo geram.
Di saat-saat seperti ini Angelo terlihat egois sekali. Pishell sudah paham betul. Namun untuk kali ini ia akan berargumen yang sebaliknya dari pernyataan Angelo.
"Perempuan lebih mudah mengeluarkan air mata karena di matanya ada kantung yang berfungsi memproduksi air mata lebih besar daripada laki-laki. Secara biologis itu sangat mendukung perempuan dibilang lemah dan cengeng. Padahal menurut aku belum tentu juga getaran tangis di hati perempuan lebih besar dari laki-laki. Air mata belum tentu sejalan dengan hebatnya tangisan di hati." Pishell menjeda ucapannya.
"Begitu juga dengan cara mengambil keputusan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin.. ini mungkin yaa.. aku belum tau pasti. Mungkin perempuan menggunakan sistem otaknya yang lebih mengedepankan perasaan untuk mengambil keputusan. Jadi perasaan latar belakang pengambilan keputusan. Dan itu sangat didukung secara biologis. Jadi bagi aku, kamu gak bijak kalau memakai anatomi tubuh dan standar hidup kamu sebagai pewakil pihak laki-laki untuk diterapkan pada pihak perempuan. Pasti akan bertentangan."
Penjelasan itu membuat Angelo terdiam. Otak logisnya belum bersepakat untuk menerima perasaan sebagai penyebab lahirnya keputusan. Di sela es jeruk lemon ditaruh si pegawai, Angelo mendapat pengetahuan baru, bahwa perasaan hanya soal here and now sementara logika soal hari ini dan masa depan. Maka dari itu laki-laki pantas dijadikan oleh kitab suci sebagai kepala rumah tangga dan pemimpin. Logika laki-laki lebih berperan baik dalam mengambil suatu keputusan!
"Gini ya Angelo .. kamu jangan pakai standar hidup kamu buat diberlakuin ke orang lain. Kayak temen kamu yang dikatain perek sama pacarnya. Bagi kamu mungkin kata perek terlalu jorok. Terlalu lah bagi kamu. Tapi bagi orang itu belum tentu. Sama halnya kayak alhamdulillah yang terucap dari kiai dibandingin sama preman kampung yang abis inyaf. Kualitas alhamdulillahnya beda. Bagi kiai itu udah sangat biasa. Sehari-hari. Tapi bagi si preman, kata alhamdulillah yang terucap getarannya bisa memporakporandakan jiwa hingga kediaman Tuhan. Makanya, sering disebut doa orang teraniaya lebih dikabulkan sama Tuhan. ”
"Hakh. Entah kenapa beberapa bulan ini aku ingin banget ngubah orang lain." Angelo membela diri.
Sejak acara tv yang tidak jelas fungsinya kecuali untuk komersialisasi, sejak industri musik memproduksi musisi karbitan dan yang penting terkenal, Angelo bertekad untuk mengubah selera orang. Baginya kelemahan dasar manusia di Indonesia ialah karena selera nya rendah!
Mereka berdua mentransfer es jeruk lemon dalam gelas ke tenggorokan mereka yang dahaga. Berharap jiwa mereka ikut terbasuh.
"Eh kamu tau gak vokalis terbaik Indonesia?" efek musik belum hilang sepenuhnya.
"Siapa? Chrisye.. ” Pishell jawab sekenanya.
"Versi majalah Rolling stone, Benyamin."
Kebiasaan Pishell melengkungkan alis tanda bingung muncul. Mentang-mentang alisnya bagus.
"Iya. Benyamin bisa berbagai aliran musik. Jazz, keroncong, pop sampe seriosa dia bisa."
"Kalo lagu terbaik siapa?" Angelo curang. Pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan seperti pembalasan dendamnya soal pemberlakuan standar.
"Gak tau"
"Bongkar-nya Iwan Fals. Aneh yaa.." Angelo heran dengan terpilihnya lagu bongkar sehingga menjadi jawara.
"Kalau cinta sudah dibuang. Jangan harap keadilan akan datang ... " lirih Pishell.
"Haha sok lo nyanyi Iwan Fals."
"Dih.. tuh kata Iwan Fals pake perasaan cinta dulu baru bisa adil. Hehehe..." Pishell meledek, menarik kembali perbincangan soal logika dan perasaan.
Angelo sudah malas meladeni. Dia memang tipe petarung yang apabila ujungnya diprediksi akan kalah, ia lebih memilih mundur. Ia tahu betul siapa lawan bicara yang sedang dihadapi. Sambil memutarkan pandangan, mencari apa-apa yang sekiranya menarik, Angelo menghadiahi kesunyian yang berlangsung beberapa menit dengan pertanyaan. Pertanyaan balas dendam.
"Kalo aku nikah, kamu dateng?"
Sunyi datang lagi. Membiarkan otak bekerja tanpa mau diganggu. Soal serius nampaknya.
"Dateng ..." jawabnya santai, menunjukkan betapa hebatnya perempuan ketika menyembunyikan luka.
Angelo menerka-nerka perasaan Pishell. Kedataran ekspresi membuat Angelo meruncingkan alat deteksi. Sayang, kepekaan inderawinya hanya mampu mengetahui isi hatinya sendiri. Perasaan terbebani ketika kata nikah itu ia lontarkan sesungguhnya berasal dari hatinya. Bukan dari lawan bicaranya.
Apa musuh utama dari suatu hubungan? Komunikasi yang didasari atas keliaran berpikir. Terkaan, prediksi atau bolehlah diperhalus dengan kata kepekaan merupakaan cermin buram dari sebuah fakta. Itu pula yang membuat Angelo dan Pishell tempo hari bertengkar hebat dan kemudian mengakhiri hubungan.
Tapi di pertemuan malam itu, di tempat minum kopi langganan mereka, Angelo mengutarakan suatu hal menarik dan berbeda tentang apa yang membuat hubungan dengan Pishell berakhir.
"Kamu inget gak kata-kata BJ. Habibie?"
"Pasangan sejati bukan yang saling menatap, tapi buka jendela dan melihat satu objek yang sama." Pishell hafal betul kata-kata romantis itu.
"Itu yang buat hubungan kita gak berjalan baik."
Kalimat Angelo itu kalau tidak boleh disebut suatu kriminalisasi perasaan, bolehlah disebut pencerahan suatu hubungan. Bagaimana bisa Angelo merunutkan kesalahan-kesalahan dari suatu hubungan, yang otomatis menyalahkan salah satu dari mereka dan bukan tidak mungkin keduanya bersalah.
Masalahnya Angelo tidak lagi bicara mengenai rasa. Ini soal logika dan keluasan berpikir. Menarik juga untuk mengetahui penjelasannya.
"Apa yang salah dengan kalimat itu?"
"Perasaan kita dibenangmerahi oleh persamaan. Kita sama-sama suka naik gunung, suka sama Zinedine Zidane, suka diskusi ilmu, suka minum jus Belimbing dan lain-lain. Intinya kita banyak kesamaan. Seperti kalimat itu, kita mengejar objek yang sama!"
"Dan kita jadi bermasalah ketika kita punya keinginan masing-masing dan tidak mengejar objek yang sama?!" silang Pishell.
"Cerdas! Terlalu banyak kesamaan dan terlalu sering melihat objek yang sama membuat perbedaan kecil diantara kita menyebabkan perselisihan. Contoh pas kamu tergila-gila sama band Sheila On 7, setiap konsernya kamu usahain dateng. Kita berantem, karena aku selalu ngotot musik Ahmad Dhani lebih mewah dan lebih musikal. Kamu gak mau kalah. Aku apalagi, karena emang Ahmad Dhani 1 peringkat diatas Erros dalam urutan pencipta lagu terbaik versi majalah Rolling Stone."
"Sama juga pas kamu bilang semua inti manusia dari pikiran (psikologis) nya.. aku kekeuh bahwa psikologis itu bagian dari biologis. Semua tingkah laku manusia itu bisa dijelaskan secara biologis. Akhirnya kita perang, kamu bawa bendera psikologi, aku bawa bendera biologi. ” Pishell ingin ketus juga lalu memberi contoh lain.
"Padahal kalo kita mau saling menatap, dan memahami satu sama lain, kita bisa tau bahwa musik itu soal selera, mau orang suka Ahmad Dhani atau Rhoma Irama sekalipun, ya itu selera. Sama juga masalah psikologi dan biologi, karena kedua ilmu itu saling melengkapi sebagai suatu rumah ilmu. Kita sering mengejar apa yang ada di depan kita Pishell! Sampe lupa, apa yang mengiringi kita." pungkas Angelo
Pishell tercekat. Kata-kata sudah kehilangan makna baginya.
"Angelo..."
Kalimat itu menggantung. Nama yang disebut tidak tahu arti di balik panggilan menggantung itu. Pishell merasa badannya lebih berat dari biasanya. Ia jadi membenarkan pernyataan Angelo soal pikiran yang bisa juga memberikan beban berat pada tubuh.
"Aku mau nikah.. 2 minggu lagi ..."
Beban berat itu lepas dari tubuh Pishell. Dan beralih mendiami tubuh Angelo. Suasana begitu kaku. Wajah Angelo yang biasanya tengil mau ia apakan juga terlihat kaku. Laki-laki memang tidak begitu pandai dalam menyembunyikan luka. Angelo harus belajar dari Pishell yang sedang mengatur mimik mukanya. Air matanya tak diperbolehkan jatuh.
Pishell sesungguhnya tidak tega mengutarakan ini semua. Apalagi menuliskan nama Angelo di undangan pernikahannya. Ini mengapa menyalahkan kata-kata Habibie karena telah merusak hubungan mereka bisa disebut kejahatan. Bagi Pishell kata-kata itu merupakan lorong waktu yang menggiring Pishell untuk kembali mengecapi kenangan masa lalu bersama Angelo. Tidak hanya itu. Kata-kata itu mengandung celah masa depan. Pishell harus tegas atas kenyataan pahit.
"Iyaa aku akan dateng." Angelo memecah hening.
Pishell tersenyum. Menghargai jiwa besar mantan kekasihnya yang paling berkesan.

Mereka berdiskusi kembali. Bukan lagi soal perasaan. Tapi kehidupan tanpa harapan benar-benar mengerikan. Seperti penyerang sepak bola yang mencetak gol kemenangan tapi sudah pasti tim nya takkan lolos grup. Hidup seperti itu hambar, jika mengerikan terlalu berlebihan. Kosong.
Angelo dan Pishell sadar akan kekosongan itu. Tak lama mereka berdua pulang masing-masing. Lain arah.
Pishell masih sempat melihat punggung Angelo yang tak juga berbalik ke belakang. Pishell kecewa sejenak. Setelah itu menatap masa depan. Mengetahui di depan sana ada laki-laki yang akan jadi suaminya. Laki-laki yang ia cintai sama seperti ia mencintai Angelo. Ia sempat bohong tadi. Ia punya lelaki masa depan, sesungguhnya.
Sementara Angelo melewati jalan yang sejam lalu ia lewati dengan Pishell. Ia mengayunkan tangan, menangkap ritual kenangan lari dengan Pishell. Ia bermelankolis.
"Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa.. Apakah kau akan membelaiku semesra dahulu?" Angelo membuktikan ucapannya.
Angelo menarik nafas panjang. Ia teringat soal teori jodoh yang tadi ia jelaskan ke Pishell, dengan kesimpulan bahwa Angelo ialah jodohnya. Pahit.
Angelo membayangkan pernikahan Pishell. Dan memastikan hatinya tak apa-apa saat melihat Pishell di pelaminan dengan laki-laki lain.

Sholat Itu Tidak Wajib!



"Saya pikir sholat tidak wajib bagi kita..."

Pengajian pagi itu mendadak hangat oleh ucapan seorang ustad muda bernama Rahmat. Ucapannya barusan, membuat darah jemaah yang mendengarkan lari ke tengkuk. Sebagian jemaah yang senior geram bin naik pitam. Bahkan sudah ada pikiran untuk membubarkan pengajian.
Ustad Rahmat sebenarnya paham dampak ucapannya, namun ia memilih tenang.

Shalat Maktubah yaitu 5 waktu, hanya wajib dikerjakan oleh setiap muslim yang mukallaf, yaitu yang telah baligh, berakal sehat, laki-laki atau lainnya, dan yang suci.  Kita lihat syarat baligh. Baligh dalam arti sederhana yaitu dewasa, atau terjemahan dalam konteks yang lebih konkret ialah dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.
Bagaimana mungkin, saya bisa memberlakukan hukum wajib bagi kita, jika kita tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah.
Lihat kenyataannya. Benar-salah yang sejatinya kukuh terdikotomi menjadi objek abu-abu melalui pembenaran subjektif kita yang “keropos”. Kemudian kita mendramatisir itu semua dengan kesimpulan, bahwasanya benar salah itu milik Tuhan yang maha mengetahui. Benar salah itu hanya Tuhan yang tau.
Jika kesimpulanya demikian, manusia tidak pernah akan menjadi baligh. Manusia tidak akan pernah wajib untuk sholat. Dan akhirnya Tuhan sajalah yang pantas menjalankan sholat. Tapi apakah Tuhan sholat? Tentu kan tidak..
Itu baru satu kenyataan, bagaimana kita masih pontang-panting dengan benar salah itu sendiri. Padahal Al Qur’an, Hadits dan tata cara hidup Rasulullah sebaik-baiknya pedoman.
Mungkin jemaah ada yang berkomentar dalam hati bahwa baligh itu ditandai oleh mimpi basah bagi kaum laki-laki atau menstruasi bagi kaum perempuan. Di kegiatan yang semoga di ridhoi Allah ini, saya ingin menekankan betapa sholat itu ritual yang agung, yang menyelindapkan cahaya-cahaya nan silau yang menuntun tingkah laku. Tanda baligh menstruasi dan mimpi basah itu sebatas jasmani, yang akan mengempiskan makna ritual agung itu sehingga hanya menjadi kegiatan olahraga semata.“

Gemparlah batin jemaah yang mendengar. Terguncanglah pikiran ulama setempat yang ortodoks mengetahui penjelasan Ustad Rahmat. Suasana begitu hening. Semua sepakat yang pantas memecah keheningan itu suara Ustad Rahmat.

“ Kita lanjut ke syarat berikutnya. Berakal sehat! Pertama apa kriteria akal yang sehat. Bagaimanalah mungkin saya merusmukan akal sehat jika setiap akal manusia itu terjadi dari pengalaman masing-masing individu. Setiap akal itu terbentuk dari sensasi yang terolah oleh panca indera padahal kita ketahui, setiap manusia memiliki pengalaman dan sensasi yang sangat-sangat berbeda. Beraneka ragam bin bermacam-macam.
Jika orang gila teridentifikasi walau sebatas permukaan, kelak suatu hari orang sehat dengan akal yang pasti juga sehat dapat dirumuskan segala bentuk dan unsurnya.
Mungkin jemaah berpendapat, akal sehat itu urusan pikiran yang normal dengan mengikuti pola pikir sesuai norma.
Saya sekarang bertanya: Apakah Dzat yang kita sembah dalam ritual sholat bisa ditelusuri oleh akal sehat? “

Pertanyaan itu hanya dijawab oleh keheningan. Oleh wajah-wajah termangu.

“Apakah materi otak kita tempat bersemayamnya logika, mampu mengenali harumnya Allah? harumNya saja? “
“Akal sehat itu runtuh ketika Dzat yang maha itu melintas. Kita tidak berarti apapun, apalagi mengartikan. Allah dikenali dengan spiritualmeter. Dan sholat ialah perjalanan ruh yang akan menggetarkan arsy-Nya. Ribuan nuklir tidak akan bisa menggetarkan arsy Tuhan, melainkan kalimat  Ihdinās sirātal-mustaqīm yang penuh kerendahan hati yang mampu menggetarkan.“

Pengajian kian hangat sebabnya Matahari disuruh memanas walau sudah jutaan tahun. Matahari tak kenal mengeluh. Jiwanya takkan mungkin cedera. Mungkin itu yang disebut istiqomah.

“Akhirnya saya minta izin untuk mengingatkan diri saya, jika hidup itu hanya tentang pembelajaan seumur hidup. Tiap hari, bahkan tiap menit belajar. Tetap menjadi anak kecil yang siap menerima didikan dari setiap kejadian alam. Siap mengeja Tuhan dari berbagai wajahNya di bumi. Dan sampailah aku mengenaliMu walau hanya melihat ujung kuku dan bulu-bulu di tubuh. Kalau demikian, maka setiap jentik dan unsur di tubuh ini ikut sholat, ikut berdoa, dan ikut memuja serta ikut bertakbir.